Aktual, Independen dan Terpercaya


Catatan Perjalanan Anak Riau di Belanda (2)

Mahasiswa.jpg
(Gelfi Mustarakh)

RIAUONLINE, DELFT - Gelfi Mustarakh, anak Riau asal Gunung Sahilan, Kampar Kiri, cerita pengalaman belajar di Delft University of Technology (TU Delft), Belanda. Ia cerita tentang proyek roket air pada acara puncak dari Introduction Programme (IP) TU Delft. Semacam orientasi kampus yang dilaksanakan selama dua pekan.

 

Kandidat Master of Science dari Hydraulic Engineering ini berbagi kisah secara ekslusif kepada pembaca RIAUONLINE.CO.ID, tentang perjalanannya di Delf University of Technology. Tara - sapaan akrabnya mengenyam pendidikan di Belanda dari beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).

Ini pengalaman kedua yang disampaikan Tara kepada pembaca menyambung cerita sebelumya. 

(BACA: Catatan Perjalanan Anak Riau di Belanda

 


Proyek Roket Air (Water Rocket Project)
Acara puncak dari Introduction Programme (IP) TU Delft adalah kompetisi roket air. Kompetisi ini diikuti oleh seluruh mahasiswa baru Musim Panas (Summer) 2015. Setiap mahasiswa didistribusikan pada kelompok-kelompok kecil yang terdiri dari 8-10 orang. Nama setiap kelompok merepresentasikan nama-nama daerah di Belanda, seperti Enschede, Eindhoven, Breda, Assen, Vlissingen, dsb. Peserta diberi waktu dari senin (24 Agustus) – Rabu (26 Agustus) untuk membuat konsep, prototip dan poster presentasi dari roket yang telah ditentukan spesifikasinya oleh panitia. Pihak kampus bersama DISS (Delft International Student Society) dan Euroavia (unit kegiatan dirgantara) memfasilitasi terlaksananya kegiatan ini.

 

Tentang Roket Air
Pada dasarnya roket air yang disyaratkan panitia merupakan pengetahuan teknis sederhana dan hal yang common sense. Bahan dasar yang digunakan merupakan benda-benda yang mudah ditemukan di sekitar, misalnya Botol Plastik Coke1.5 L, tali, selotip, karton bekas, plastik sampah untuk parasut, dan sebagainya. Bodi utama yang dirancang sedemikian rupa dan dilengkapi sirip sebagai penyeimbang akan diisi dengan air sebagian. Kemudian bodi utama diletakkan pada sistem stasiun yang bisa memompakan angin. Adapun tekanan angin yang boleh digunakan hanya maksimal 60 Psi untuk pertimbangan keselamatan (safety). Pada stasiun peluncuran tersebut terdapat sistem jepit yang apabila dilepas secara tiba-tiba akan mendorong keatas air dan angin yang sudah ‘terdesak’ pada kompartemen bodi utama.

 

(KLIK JUGA: Dari Gunung Sahilan ke Negeri Kincir Angin

 

Tantangan Membuat Sistem Parasut

Hari peluncuran dilakukan pada Kamis 27 Agustus di lapangan Sport and Culture TU Delft. Setiap kelompok diberi waktu 10 menit dan mendelegasikan 2 orang berada di lapangan, 1 orang sebagai detonator yang melepaskan penjepit dan 1 orang yang memompa.Hal yang tersulit dalam lomba rancang roket air ini adalah membuat sistem parasut yang bisa membuka sendiri. Kriteria pemenangnya pun merupakan kelompok yang berhasil membuat terbang paling lama dengan parasut. “Kita tidak diperbolehkan membuat sistem otomasi elektronik sehingga parasut bisa membuka dengan kontrol. Jadi praktis semuanya diperkirakan secara manual” ujar salah seorang peserta. Kelompok Eindhoven 3 merupakan salah satu kelompok yang berhasil meluncurkan roket dengan baik dan membuat sistem parasut membuka dengan maksimal. Mereka berhasil mencatat waktu terbang 13 detik dan merupakan salah satu rekor terbaik yang tercipta hari itu. “We obviously did it. We are very proud now. It’s all only because of good teamwork(Kita berhasil melakukannya, kita sangat bangga. Ini semua hasil kerja tim” ujar Abdul mahasiswa internasional Nigeria dari Eindhoven 3.

 

Kegiatan Bonding Multikultur
Pada hari yang sama dengan hari peluncuran dilakukan presentasi poster yang dinilai oleh juri-juri dari staf dosen yang ada di kampus. Setiap kelompok diuji kemampuan berkomunikasinya terkait proses pembuatan, teknis kerja roket, kerja tim, dsb. Adapun sebagian besar peserta sepakat bahwa kegiatan ini merupakan hal yang sangat baik sebelum memulai perkuliahan minggu depan. Tujuan utama dari lomba ini sebenarnya merupakan pengikat (bonding) dari mahasiswa TU Delft tahun ini yang berasal dari 84 negara yang berbeda, termasuk didalamnya Indonesia.

 

Sukai/Like Fan Page Facebook RIAUONLINE dan Follow Twitter @red_riauonline