Aktual, Independen dan Terpercaya


Catatan Perjalanan Anak Riau di Belanda

 

RIAUONLINE, DELFT - Putra Riau asal Gunung Sahilan, Kampar Kiri, berkesempatan melanjutkan pendidikan S2 di negeri Belanda. Gelfi Mustarakh menjadi pemuda Indonesia yang sangat beruntung bisa mengenyam pendidikan di luar negeri atas biaya Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).

 

Minggu lalu, kandidat Master of Science dari Hydraulic Engineering, Delft University of Technology (TU Delft) ini, bertolak dari Indonesia menuju Belanda. Tara, demikian ia biasa disapa, berbagi cerita secara ekslusif kepada pembaca RIAUONLINE.CO.ID tentang kisah perjalananya menuju Negara Kincir Angin dan menjadi mahasiswa baru di TU Delft.

 

Hoi Holland!

Perjalanan selama 14 jam untuk direct flight (penerbangan langsung tanpa transit) ke Belanda dimulai dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Jakarta. Tahun ini ada sekitar 50-an mahasiswa asal Indonesia yang melanjutkan kuliah Delft University of Technology (TU Delft) untuk berbagai tingkatan, mulai dari bachelor hingga doktoral. Mahasiswa-mahasiswa tersebut terdiri dari berbagai program, seperti beasiswa dari Kerajaan Belanda (StuNed), Beasiswa dari TU Delft, Beasiswa dari LPDP RI, dan ada juga yang membayar sendiri. Adapun yang menjadi jumlah dominan mahasiswa internasional TU Delft tahun ini secara berurutan adalah dari India, China, dan diikuti oleh negara-negara Eropa daratan. Indonesia mungkin termasuk dalam 15 besar secara jumlah.

 

Welkom in Delft
Delft adalah sebuah kota tua yang terletak di sebelah barat negara Belanda, tepatnya di Provinsi Zuid Holland (Belanda Selatan). Kita bisa mencapai Delft selama sekitar satu jam dengan bus atau lebih singkat lagi jika menggunakan kereta. Secara geografis Delft sangat dekat dengan Den Haag (Pusat Pemerintahan Belanda), Rotterdam (Pusat Bisnis Belanda) dan Leiden. Tak jauh dari pusat Kota Delft, berdirilah sebuah universitas teknologi terkemuka di Belanda dan Eropa, TU Delft. Mahasiswa internasional biasanya tinggal di housing (sejenis apartemen mahasiswa) yang sudah dipesan terlebih dahulu sebelumnya melalui makelaar (pihak ketiga).

 

Introduction Programme
Sebelum memulai kuliah secara resmi pada tanggal 31 Agustus mendatang, setiap mahasiswa baru TU Delft diwajibkan mengikuti Introduction Programme (IP), sejenis orientasi kampus, selama sekitar 2 minggu. IP dikonsep oleh panitia secara menarik dan menyeluruh. Selain dapat mengenal mahasiswa dari 83 negara, di sini kita juga dibekali berbagai pengetahun untuk dapat survivehidup di Belanda, melengkapi perlengkapan kamar dan dapur, melaksanakan proyek bersama bersama seluruh mahasiswa.

 

(BACA JUGA: Dari Gunung Sahilan ke Negeri Kincir Angin

 

Negara Populasi Sepeda
Banyak anekdot yang mengatakan bahwa jumlah sepeda di Belanda lebih banyak dari pada jumlah penduduknya. Hal ini sangat terbukti ketika awal kedatangan di Delft. Setiap sudut kota dipenuhi oleh parkiran sepeda. Dutch (orang Belanda) mengatakan bahwa mereka menganut faham feminisme (tidak ada kekuatan yang dominan), sehingga jangan heran jika pejabat publik mereka juga menggunakan sepeda. Mobilitas kampus yang tinggi menuntut kita (mahasiswa) untuk memiliki sepeda juga. Mencari sepeda di Delft, biasa mahasiswa lebih suka second-hand bike (sepeda bekas), susah-susah gampang. Kita harus 'berebutan' dengan ribuan mahasiswa internasional lain dengan kebutuhan yang sama. Hal ini terlihat ketika bazaar sepeda yang menjadi rangkaian dari IP (Introduction Programme). Saya sendiri mendapatkan jenis folded bike (sepeda lipat) di salah satu tokoh di Delft Centrum lengkap dengan gembok dan lampu seharga 95 Euro, itu adalah rata-rata harga sepeda bekas.

 

Jangan Rupiahkan Jenis Makanan 
Untuk mahasiswa dengan 'jatah bulanan' terbatas, hidup di Belanda harus memiliki siasat dan jurus tersendiri. Membeli makanan jadi untuk keperluan sehari-hari bukan pilihan yang tepat. Satu kali makan bisa mencapai 5-10 Euro untuk jenis kebab atau10-15 Euro untuk makanan menengah (1 Euro = Rp 15.000 - Rp 16.000). Masak sendiri dan membawa 'bekel' adalah pilihan yang masuk akal. Namun demikian, jangan pernah rupiahkan harga kebutuhan pokok disini, beras bisa mencapai Rp 25.000 per Kg, sayuran bisa mencapai Rp 15.000 setiap jenis, dsb. Susu dan telur ayam adalah sedikit dari jenis barang yang cukup normal bila dibandingkan dengan harga di Indonesia.

 

(KLIK JUGA: Kiat Sukses Meraih Beasiswa LPDP)

 

Doakan Kami
Minggu depan, 31 Agustus 2015, adalah awal masa perkuliahan tahun ajaran 2015-2016 di TU Delft. Semua mahasiswa Indonesia memiliki perasaan yang sama dalam menyambut hari pertama tersebut. Sebagai kampus dengan reputasi internasional, ini merupakan pengalaman yang berharga untuk meningkatkan kapasitas diri. "Doakan kami, semoga bisa menyelesaikan pendidikan ini dan kembali ke Indonesia membawa sesuatu untuk dikembangkan," ujar Andri, mahasiswa Electrical Engineering asal Indonesia.

 

Sukai/Like Fan Page Facebook RIAUONLINE dan Follow Twitter @red_riauonline