Aktual, Independen dan Terpercaya


Dari Gunung Sahilan ke Negeri Kincir Angin

 

Sepenggal kisah menginspirasi perjalanan anak Riau ke negeri kincir angin. Pendidikan tidak harus mahal.  

 

RIAU ONLINE, PEKANBARU – Melanjutkan pendidikan ke luar negeri tentu saja menjadi impian banyak orang. Namun banyak alasan membuat harapan kandas, mulai dari perasaan tidak percaya diri hingga faktor biaya relatif mahal. Tapi apa pun itu alasannya tidak serta merta mesti mengorbankan impian yang diharapkan.

 

Ada banyak peluang terbuka lebar bagi anak bangsa bisa mengenyam bangku pendidikan di luar negeri. Siapa pun dia, kalangan ekonomi bawah, menengah hingga atas, profesional maupun akademisi. Semua bisa, syaratnya kualitas diri.

 

Peluang itu berhasil diraih pemuda asal Desa Gunung Sahilan, Kampar Kiri, Riau. Ya..dialah, Mustarakh Gelfi. Pemuda berusia 22 tahun dari keluarga sederhana ini menjawab pendidikan itu tidak harus mahal. Ia memperoleh beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Melanjutkan study ke Belanda, tepatnya Delf University of Technology, perguruan tinggi terkemuka di bidang teknologi di Belanda. 

 

“Jangan takut terhadap biaya, banyak instansi menyediakan beasiswa selama kita memenuhi kualifikasi,” katanya, saat berkunjung ke redaksi RIAUONLINE.CO.ID, belum lama ini.

 

Tara – sapaan akrabnya berbagi cerita sepenggal perjalanan hidupnya dari Gunung Sahilan, hingga ke negeri kincir angin, Belanda. Desa Gunung Sahilan merupakan sebuah kecamatan yang berada di Kampar Kiri, Riau. Desa ini dikenal dengan sejarah kejayaan kerajaan gunung sahilan.

 

Di desa ini Tara menghabiskan waktu seperti anak kebanyakan: belajar dan bermain. Menempuh pendidikan sekolah dasar hingga kelas V. Tara dan keluarga kemudian pindah ke Pekanbaru, menempati rumah petak tidak begitu besar di Jalan Amilin, Sukajadi. Sambil menerima orderan jahit baju, orangtuanya juga buka warung kecil-kecilan. 

 

Selama menempuh pendidikan di sekolah dasar, prestasi Tara moncer, sebagai ganjaran ia memperoleh beasiswa untuk murid berprestasi dari Yayasan Dompet Duafa, lembaga peduli pendidikan keluarga golongan ekonomi menengah ke bawah yang mampu secara akademik.

 

Ia berkesempatan mengenyam pendidikan di yayasan Smart Ekselensia Indonesia, Bogor, Jawa Barat. Hebatnya, pendidikan ditawarkan satu paket, dari Sekolah Menengah Pertama hingga Sekolah Menengah Atas hanya ditempuh dalam masa lima tahun.

 

(BACA JUGA: Kiat Sukses Meraih Beasiswa LPDP

 

Tara, saat itu masih berusia 12 tahun, terpaksa harus berpisah dengan kedua orangtuanya. Sempat berfikir untuk mundur, lantaran harus jauh dari orangtua. Namun dukungan dan motivasi dari sang ayah menguatkan semangatnya belajar di rantau orang. “Selama lima tahun saya tinggal di asrama,: ujarnya.

 

Selama lima tahun dalam pengawasan asrama membuat Tara hidup lebih disiplin. Tidak bisa lagi bermain sesukanya saat masih sekolah dasar di kampung halaman. Kedisiplian di asrama justru memicu semangatnya belajar lebih giat. Membaca buku menjadi rutinitas sehari-hari. “Saya suka baca biografi pahlawan seperti Hatta, Syahrir, Sukarno dan Tan Malaka,” katanya.

 

Lima tahun berproses, Tara kemudian melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Melalui ujian jalur mandiri, Tara lulus di Jurusan Teknik sipil, Institit Teknologi Bandung (ITB). “Di ITB jurusan sipil lebih tinggi rankingnya, maka saya pilih sipil,” ujarnya.

 

Kuliah di Bandung, Tara justru mendapat beasiswa dari pemerintah setempat lantaran prestasi akademiknya baik. “Mungkin karena saat itu kabupaten mereka sedang mencari kuota anak daerah. Saya mendapat beasiswa selama 4 tahun kuliah untuk biaya pendidikan dan biaya hidup,” kata Tara.

 

Ubah Mindset Untuk Meningkatkan Kapasitas Diri

Tara mengaku diawal kuliah ia tak pernah terfikir melajutkan kuliah lagi. Cukup lulus S1, setelah itu bekerja dan menghasilkan uang. Tetapi setelah difikir lagi, saat ini lulusan S-1 sudah terlalu banyak. “Jadi mau tidak mau Ia harus menambah kapasitas diri,” ujarny.

 

“Pertama, mindset kuliah itu untuk menambah kapasitas diri. Untuk kuliah di luar negeri memang sulit dan memerlukan biaya yang tidak sedikit. Untuk itu sekarang kan sudah banyak institusi menyediakan beasiswa selama kita memenuhi kualifikasi mereka. Jadi jangan takut terhadap biaya,” tutur Tara.

 

“Kedua adalah syarat bahasa. Mulailah membangun bahasa Inggris sejak awal kuliah. Kliselah ya bahwa bahasa Inggris itu bahasa pergaulan internasional. Mungkin sebagian dari kita malah menghindari belajar bahasa Inggris padahal sebenarnya ini sangat baik sekali untuk kehidupan kita dimasa depan,” tuturnya. 

 

“Banyak sekali akan terbuka seperti peluang kerja atau peluang kuliah lagi. Nah sekarang mulailah membaca jurnal-jurnal Inggris, atau koran-koran berbahasa Inggris,” lanjutnya.

 

“Ketiga, mulai serius kuliah. Sebab, kuliah itu sebenarnya membangun cara berfikir kita. Mulailah melihat dunia ini lebih luas. Tidak hanya Pekanbaru saja. Di luar sana masih banyak yang bisa kita akses,” ungkap Tara.

 

Bekerja Untuk Persiapan S2

Setelah lulus dari ITB selama 4 tahun, Tara sempat bekerja menjadi konsultan teknik di Bandung selama 8-9 bulan. Ini dilakukannya untuk mempersiapkan rencananya melanjutkan S2 di luar negeri, Belanda. Keinginannya untuk kuliah di Belanda ini datang saat menjalani tahun kedua di ITB.

 

“Buat modal juga, karena untuk daftar itu lumayan juga uang-uangnya dan les juga,” ujar Tara.

 

Selama bekerja tersebut, Tara mengikuti les bahasa Inggris, bukan bahasa Belanda. Sebab sejak tahun 2000-an ke atas, institusi pendidikan di Belanda sudah mewajibkan bahasa Inggris.

 

“Untuk bahasa Belanda, saya sempat les juga selama sebulan di Jakarta, di Kedutaan Besar Belanda. Tapi itu untuk keperluan sehari-hari saja karena orang Belanda itu relatif terbuka sama bahasa Inggris,” jelasnya. 

 

Lolos S2 Dengan Beasiswa LPDP

Tara menjelaskan, beasiswa LPDP saat ini telah menjadi institusi dan mempunyai badan hukum. Beasiswa disediakan oleh Pemerintah Indonesia melaui Kementerian Keuangan.

 

Jumlah beasiswa LPDP reltif besar dibanding dengan beasiswa lainnya untuk program master dan doktor baik di dalam maupun luar negeri. Universitas yang masuk dalam list LPDP adalah universitas dengan peringkat 200 besar dunia. "Beasiswa ini menanggung biaya kuliah dan biaya hidup mahasiswa selama masa studinya," katanya.

 

LPDP memberi kontrak kepada penerima beasiswa yakni harus kembali ke Indonesia dan mengabdi untuk Indonesia. Penerima bebas mengambil bidang studi manapun dengan syarat kita harus kembali ke tanah air. "Beasiswa ini sangat fleksibel. Maka di sana ada tanggung jawab moral karena kita memakai uang negara," lanjut dia.

 

Mengambil jurusan Hydrolic Engineering Faculty of Civil Engineering and Geoscience, Tara menuturkan, selama kuliah di Belanda ia akan tinggal di apartemen khusus mahasiswa kampusnya. Dengan demikian, akses ke kampus menjadi lebih dekat dan bergabung dengan pelajar internasional.


Tara menjelaskan, waktu dihabiskan untuk mendaftar beasiswa LPDP hingga pengumuman lolos kurang lebih tiga bulan. Terdapat beberapa tahapan seleksi pada beasiswa yang membuka pendaftaran selama empat kali dalam setahun ini. Antara lai seleksi administrasi, wawancara, Leaderless Grup Discussion (LGD) dan terakhir ketika telah dinyatakan lolos, akan ada persiapan keberangkatan.

 

Mengabdi Untuk Indonesia

Disinggung mengenai cita-cita dan tergetnya kedepan, anak dari pasangan Koner Gibson (55) dan Elfiza (43) ini ingin membangun pelabuhan yang banyak di Indonesia, sejalan dengan cita-cita Joko Widodo Presiden RI yakni ingin membangun sebuah negara maritim.

 

“Saya itu berfikiran begini, pada 2045, dari rencana pembangunan jangka panjang, kita kan katanya Indonesia Emas. Karena kita pas 100 tahun merdeka dimana saat itu kita diuntungkan dalam sisi demografi. Jadi demografi kita banyak orang muda yang berusia 30-40 tahun akan mendominasi,” tuturnya. 

 

Menurut teori demografi, ujar Tara, saat orang muda mendominasi, maka saat itu kemajuan bangsa akan terlaksana dengan syarat-syarat yang banyak termasuk pendidikan. Saya berfikiran, setidaknya dua hal yang kita butuhkan yaitu konektifitas dan pengeluaran energi.

 

“Negara yang maju itu menurut saya yaitu energinya itu tidak seperti kita sekarang yang masih impor. Makanya kemarin ketika terjadi gejolak harga minyak, kita kelabakan ekonomi secara nasional. Jadi kita seharusnya sudah mandiri ditahun 2045 secara energi.”

 

“Kedua adalah konektifitas, yaitu hubungan. Nah saya sebenarnya lebih fous ke konektifitas ini. Indonesia terdiri dari pulau-pulau dan seharusnya transportasi bisa lebih lancar. Makanya saya belajar tentang pelabuhan. Cita-cita saya kira-kira berhubungan dengan konektifitas nasional. Jadi sederhananya saya mau bangun pelabuhan yang banyak di Indonesia ini, sejalan dengan cita-cita Jokowi, ingin membangun sebuah negara maritim yang disokong oleh konektifitas antar pulau dan pelabuhannya baik,” jelas Tara.

 

Hatta Sosok Inspirasi 

Proklamator Muhammad Hatta adalah sosok menginspirasi Tara. Menurutnya, Hatta merupakan sosok idealis, sederhana dan mempunyai visi kebangsaan.

 

“Kebetulan kan Hatta ini juga kuliah di Belanda. Kesederhanaan Hatta itu banyak membuat saya berfikir ulang tentang hidup. Dia juga jadi bahan bacaan saya masa kecil,” ungkap Tara.

 

Tara berpesan kepada generasi muda yang dikutipnya dari perkataan Imam Syafi’i.

 

“Ada kutipan yang bagus dari Imam Syafi’i yaitu jika kamu tak tahan lelahnya belajar, maka kamu akan menanggung perihnya kebodohan. Itu juga yang menjadi pegangan saya dan untuk kita semua agar terus menambah kapasitas diri dan terus belajar apapun bidangnya,” tutup Tara

 

Sukai/Like Fan Page Facebook RIAUONLINE dan Follow Twitter @red_riauonline