Kisah Manggala Agni Dumai Selamatkan Paru-Paru Anak Negeri dari Asap Karhutla

Manggala-Agni1.jpg
(RIAUONLINE.CO.ID/AZHAR SAPUTRA)

.RIAU ONLINE, DUMAI - Waktu terus berlalu meninggalkan pukul 16.30 WIB. Itu artinya petugas juga sudah harus bersiap-siap menghentikan kerjanya dan melanjutkan pada esokan hari. Tapi Okto masih setia menggengam nozel yang menyemburkan 151 Liter air per menit atau setara dengan 3.3 bar kearah kerumunan asap putih berasal dari tanah gambut, 1 1/2 meter dari hadapannya.

Okto juga terlihat menyempatkan diri menengadah melihat helikopter water bombing beserta bucket menjauh pergi meninggalkannya. Tatapan lelahnya seperti memerintahkan agar pesawat itu kembali berputar arah membantu menyelesaikan pekerjaan karena tugasnya belum usai. Petugas lapangan yang sudah mengabdi 17 tahun di Manggala Agni ini mengaku baru berhenti menyelesaikan pekerjaan jika asap telah menghilang dalam tanah.

"Serta tanah ini sudah menjadi bubur," sebutnya diiringi dengan berhentinya air yang keluar dari nozel digenggamnya, Rabu, 10 April 2019.

Sambil menggaruk leher bagian kanan karena gatal, pria dengan nama lengkap Okto Venus Denu ini menjauh dari bara api telah menjadi genangan air. Sepatu bot dikenakan terendam hingga mata kaki lalu berpindah menyeberang menggunakan sebatang pohon sengaja ditumbangkan menuju badan jalan tanah berkabut. Selang digulung dan dipikul kemudian bergegas dengan niat pulang.

Diiringi matahari perlahan-lahan kembali keperaduannya. Area yang terbakar itu sudah terjadi selama dua bulan. Lokasi itu berada di Jalan Dahlia, Kecamatan Medan Kampai, Kelurahan Teluk Makmur, Kota Dumai, menjorok menjauhi permukiman, sedikit ke tengah hutan.

Menurut informasi warga setempat, kobaran api terjadi karena ulah manusia. Kabar lainnya, karena kecemburuan sosial, tapi omongan itu tak dihiraukannya.

Setelah pemadaman usai, baru kondisi mengerikan terlihat. Tidak ada lagi dentuman suara pompa pemadam. Yang ada hanya kesunyian, tidak juga ada serangga hilir-mudik, seperti belalang, capung, jangkrik.

Burung-burung juga enggan mendekat. Onggokan asap dari dalam tanah, arang, sisa bara, hitam ditambah banyaknnya hidrologis gambut rusak parah tergambar jelas saat itu.

Beruntung, lokasi itu berdekatan dengan kediamannya. Sehingga petugas ini bisa kembali pulang dan menikmati secangkir kopi panas buatan istri sambil ditemani tiga anak yang ganteng dan cantik-cantik. Sebaliknya, kalau lokasi terbakar sampai harus meninggalkan anak dan istri berbulan-bulan.

"Jadinya bermain sama anak dan istri berkurang. Bisa dibilang keluarga itu adalah nomor dua, keluarga itu nomor dua," ucapnya diulang dua kali.

Dari raut mukanya, kerutan wajah serta peluh bercucuran membasahi kaos dinasnya, terlihat Okto berusaha keras mengingat kapan terakhir kali bersama rekan melakukan pemadaman hingga berbulan-bulan mandah meninggalkan keluarga dicintai.

Sepatu bot selalu dikenakan kemudian dilepas, ingatannya kembali pulih saat menyebutkan satu wilayah di Rokan Hilir. Selama 30 hari lebih ia berada di tengah hutan bekerja memadamkan api di hutan.

Saat malam hari tiba, ditemani dinginnya malam, Okto mengaku lebih sering menghabiskan waktu dengan cara pergi memancing dan bercanda-gurau bersama rekan Manggala Agni lainnya.

"Waktu istirahat biasanya kita manfaatkan mandi di kanal, tidur di kamp atau tinggal di barak masyarakat. Kalau listrik jarang ya. Paling kalau penerangan lampu darurat itu sama lilin. Susahnya kita di lapangan itu saat ngumpul jadi senang, kalau dukanya ya waktu untuk keluarga jadi berkurang. Tapi kami lakukan ini untuk masyarakat. Bukan selamatkan masyarakat saja, anak istri juga kita selamatkan. Artinya tugas beberapa lama kita siap, kemaren di Pulau Rupat juga 1 bulan lebih," tuturnya sambil tersenyum. 

Hingga tidak terasa Okto buka-bukaan kalau mandah (berbulan-bulan tak di rumah) disebutkanya itu juga sedikit lagi merenggut nyawanya dan orang lain.

Kejadian terjadi di Pelintung, Medan Kampai, Dumai, tahun 2011. Satu regu (20 orang) dikepung api setinggi 5 meter karena tidak ada jalan untuk menghindar. Mereka nyaris mati terbakar hidup-hidup. Tapi tidak terjadi lantaran terselamatkan kanal penuh air. Masuk menyelam menyelamatkan diri hingga api berkurang dan kemudian kembali bekerja.

 

"Kita dikelilingi api lalu terjun ke kanal. Hampir kehilangan nyawa. Kalau gak ada kanal kita pasti udah gak jumpa Mas. Tak hanya di Pelintung, di Bukit Batu juga pernah," jelasnya.

Menurutnya kejadian luar biasa kerap dilakukan Api Setan. Berputar-putar seperti angin Puting Beliung. Hanya saja dalam bentuk api. tingginya 5 meter dan lebar 1 meter dengan membawa asap kemudian pergi menjauh.

Cerita berikutnya, ia menyaksikan langsung dari balik papan rumah ada orang terbakar hidup-hidup. Kata Okto, korbannya Ibu dan anaknya saling berpelukan dalam kamar mandi, tewas dilalap api di Rohil, 2014.

"Awal kejadiannya, suaminya ini mau keluar rumah karena sudah kita peringatkan kalau ada api. Tapi anak sama istrinya sudah keluar lalu masuk lagi. Di situ dibantai angin kemudian api membesar. istrinya memeluk anak di kamar mandi dalam keadaan sudah tidak bernyawa," jelasnya pilu.

Sepenggal pengalaman hidup itu bukan menyurutkan langkahnya. Atau mencari pekerjaan baru lainnya. Meskipun diawal karirnya hanya dibayar Rp 180 ribu dibayar 6 bulan sekali. Atau bekerja tanpa perlindungan seperti jaminan hari tua ataupun asuransi kesehatan baginya tak masalah.

Belum lagi status bukan karyawan tetap atau Aparatur Sipil Negara (ASN), namun hanya bekerja sebagai relawan. Baginya, Manggala Agni sebuah kebanggaan, bangga bekerja mencegah dan membatasi kerusakan hutan, kawasan hutan dan hasil hutan disebabkan perbuatan manusia, ternak, kebakaran, daya-daya alam, hama serta penyakit.

Ia juga bangga mempertahankan dan menjaga hak-hak negara, masyarakat dan perorangan atas hutan, kawasan hutan, hasil hutan, investasi serta perangkat yang berhubungan dengan pengelolaan hutan sesuai dengan UU No 47 Tahun 1999 tentang Kehutanan, perlindungan hutan dan kawasan dan kawasan hutan.

Namun, dimanakah kehadiran negara dari kerja keras contoh relawan satu ini? Masih tegakah membiarkan mereka hidup dengan upah seadanya tanpa jaminan hari tua atau asuransi kesehatan di saat bekerja dengan paparan asap serta kobaran api mengancam? 

Menurut hasil penelitian dari jurnal Internasional Atmospheric Chemistry and Physic tahun 2016, di Kalimantan Tengah, oleh beberapa universitas dari Amerika Serikat, termasuk Institut Pertanian Bogor (IPB), menjelaskan, terdapat lebih dari 90 jenis gas terlepas ke udara selama kebakaran gambut berlangsung.

Dari jumlah tersebut, 50 persennya beracun ketika dihirup. Prof Bambang Hero, Ahli Kehutanan dan Gambut IPB mengatakan, dampaknya ribuan kasus gangguan kesehatan seperti pneumonia, asma, gangguan penglihatan, penyakit kulit, ISPA bahkan meninggal dunia.

Menjawab pertanyaan itu, Kadaops Manggala Agni Kota Dumai, Jusman mengatakan, ke-59 anak buahnya sudah dibekali pah bulanan yang berbeda jika dibandingkan dengan jabatan serupa untuk wilayah Pemko Dumai. Nominalnya Rp 2,5 juta per bulan belum lagi dengan tunjangan lainnya. Seperti uang patroli dan uang pemadaman di luar gaji pokok.

"Kalau honor memang Rp 2,5 juta sebulan. Tapi mereka itu juga ada uang patroli dan pemadaman. Untuk uang patroli 6 paket dengan jumlah Rp 12 juta bagi rata untuk 5 orang setiap bulan. 1 paket patroli biasanya Rp 4 juta dengan total 48 paket dalam 1 tahun. Kalau uang pemadanan lebih besar, karena di situ semuanya. Tapi saya tak tahu Daops lain seperti apa penerapannya," jelasnya.

Manggala Agni Dumai juga dibekali BPJS Kesehatan. Hanya saja dalam pengurusan BPJS Ketenagakerjaan masih membutuhkan waktu. Belum lagi pertimbangan kantor pusat mereka berada di Palembang dengan perbandingan Upah Minimum Regional (UMR) cukup berbeda dari Dumai. Untuk urusan perut mereka juga teratas dari petugas pemadam lainnya seperti TNI, Polri dan lainnya.

Jusman mengatakan, sebanding dengan kandungan gizi seperti rumah makan membanderol harga Rp 20 ribu untuk setiap porsinya.

"Kami siasati dengan masak sendiri, jadi tidak beli makanan. Hanya saja porsinya seperti yang ada di rumah makan harga Rp 20 ribu. Susu juga penting, bisa lihat kalau kami lagi istirahat," katanya.

Belum lagi petuga dibekali oleh peralatan yang mempuni, seperti mesin pompa, selang yang banyak. Juga peralatan keselamatan seperti sepatu, topi, masker. 

"Untuk alat kami siapkan yang benar-benar untuk pemadam kebakaran. Seperti panjang selang yang kami miliki hingga 10 meter dengan 15 gulung. Kita juga punya perlengkapa safety seperti sepatu, topi, baju pemadam, masker yang bisa dicucui. Tapi karena mereka resah menggunakannya, ya seperti itu. Paling hanya gunakan sepatu dan seragam saja," tutupnya.