BPBD Minta Investigasi Kasus Karhutla Rohil

Kepala-bpbd-edwar-sanger.jpg
(RIAUONLINE.CO.ID/AZHAR SAPUTRA)

Riau Online, Pekanbaru - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Riau meminta Polisi dapat mengusut tuntas kebakaran lahan yang terjadi di wilayah Rokan Hilir (Rohil), awal 2019 ini.

Kepala BPBD Riau, Edwar Sanger di Pekanbaru, Kamis, 3 Januari 2019, mengatakan bahwa investigasi menyeluruh harus dilakukan guna menimbulkan efek jera.

"Ini sudah keterlaluan. Belum lagi Satgas luruskan pinggang sudah ada kebakaran lahan lagi," kata Edwar.

Baca Juga :

3 Tahun Bebas Asap, Status Siaga Darurat Karhutla Riau Dicabut 

Riau Akan Segera Akhiri Status Siaga Darurat Karhutla

 

Luruskan pinggang secara harfiah bermakna rehat sejenak, karena Satgas Karhutla yang bekerja keras sepanjang 2018 lalu baru saja dibubarkan sebulan lalu.

Saat itu Satgas Karhutla mencatat 5.000 hektare lahan di provinsi Riau terbakar hebat dan harus dapat ditanggulangi secara cepat agar tidak terjadi kabut asap.

Untuk itu, Edwar sedikit kesal ketika tahun baru berganti namun Karhutla kembali terjadi. Bahkan, tahun 2019 belum genap 60 jam.

 "Harus diinvestigasi secara menyeluruh. Supaya ada efek jera dan sebelum kasus kebakaran meluas," lanjutnya.

Sementara itu, pihak Polres Rohil menyatakan telah menyegel lahan yang terbakar tersebut. Penyegelan dilakukan sebagai bagian dari langkah penyelidikan.

"Sudah dipasangi garis polisi, langsung dilakukan oleh Satreskrim Polres Rokan Hilir," kata Kepala Polsek Tanah Putih, Kompol L Simatupang.

Selama dipasang garis polisi, katanya, lahan tersebut dalam penyelidikan dan tidak boleh diolah.

Dia menjelaskan bahwa kebakaran lahan di Tanah Putih, tepatnya Desa Mumugo terjadi dalam tiga hari terakhir.

Lahan gambut kering yang didominasi semak belukar serta sebagian di antaranya telah ditanami pohon nenas tersebut masih terbakar dan sulit untuk dikendalikan.

Terlebih lagi, dia mengatakan selama proses pemadaman dengan melibatkan tim gabungan TNI, Polri, Manggala Agni dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) tim kesulitan mencari sumber air.

"Air sangat sulit, besok kami baru akan membuat sumur di sekitar lokasi kebakaran. Untuk sementara ini kami hanya membuat blok agar api tidak meluas," ujarnya.

Lebih jauh, Simatupang menjelaskan bahwa lahan yang terbakar merupakan lahan milik masyarakat.

Sementara, si pemilik lahan sendiri tidak berada di desa tersebut. "Ini juga masalahnya, pemilik lahan tidak ada di tempat. Kami sudah koordinasi dengan kepala desa untuk melacak pemiliknya," ungkapnya.***