Aktual, Independen dan Terpercaya


Batam akan Jadi Pusat Desain Ponsel dan Aplikasi Mobile

PONSEL-SAMSUNG.jpg
(INTERNET)

 

RIAU ONLINE, BATAM - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mengungkap niatnya untuk mengubah Batam menjadi pusat desain ponsel dan aplikasi mobile. Rencana tersebut akan diwujudkan tahun ini dengan mendirikan sebuah Techno Park.

 

"Tahun ini, setelah arahan dari Presiden kan mesti buat Techno Park. Kemenperin pegang lima. Melihat potensi daerah, karena di Batam banyak komponen elektronik, maka bisa dijadikan satu basis Techno Park yang kita kembangkan untuk ponsel, desain ponselnya," terang Direktur Industri Elektronik dan Telematika, Kemenperin, Ignatius Warsito, Rabu (16/9/2015).

 

Pusat desain, yang dimaksud Ignatius, akan diisi antara lain dengan lembaga sertifikasi, training center untuk proses pembuatan ponsel, hingga fasilitas pengujian desain tersebut. Mulai dari prosesor yang digunakan, hingga spesifikasi-spesifikasi lain akan dibuat di sana. (BACA JUGA: Luar Biasa. Inilah Animator Ant Man Asal Indonesia)

 

Seperti dilansir Nextren.com, selain hardware, pusat desain di Techno Park Batam juga terlibat dalam proses pengembangan software. Khususnya untuk software yang bakal dipakai di dalam ponsel.

 

Harapannya semua itu menghasilkan desain yang bagus dan dapat dipakai oleh vendor tertentu. Sementara dari sisi vendor, hal tersebut juga bakal mempermudah mereka karena nilai desain dan software yang dikerjakan oleh tenaga lokal akan masuk dalam persentase Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN).

 

Ignatius menambahkan, pemerintah telah menyiapkan dana dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara, sebesar kurang lebih Rp 11 miliar untuk pusat desain tersebut. Nantinya akan dibuat juga struktur pengelola yang melibatkan pemerintah daerah agar sistem operasionalnya berkelanjutan. (BACA JUGA: Buruh Angkut Ini Hasilkan Rp 16 Juta dari Aplikasi Game)

 

"Sekarang sedang dibangun dan startup launching-nya tahun ini. Selanjutnya kita minta roadmap mereka untuk lima tahun ke depan akan melakukan apa saja," terang Ignatius.

 

"Di sana sudah ada focus group discusion dan Kelompok Kerja (Pokja). Sementara ini dipimpin oleh Kemenperin karena butuh bimbingan untuk pengembangan riset, soal dana, dan beberapa hal lainnya," pungkasnya.