Surat Terbuka Sang Atlet Wanita Muslim AS Untuk Trump

Ibtihaj-Muhammad.jpg
(TIME)

RIAU ONLINE - Atlet anggar wanita Amerika Serikat yang merupakan seorang Muslim Amerika pertama yang mengenakan hijab saat berlaga di Olimpiade 2016 dan sukses meraih perunggu.

c (31), meski ikut mengharumkan nama Amerika Serikat di kancah internasional, tampaknya khawatir dengan pemerintahan Amerika Serikat yang saat ini dipimpin oleh Donald Trump. Pasalnya, berbagai kebijakan Donald Trump justru bertentangan dengan idealisme yang dibangun Amerika Serikat.

Melalui surat terbuka Ibtihaj menggoreskan setiap kekhawatirannya yang ditujukan kepada Donald Trump. Berikut isi surat terbuka Ibtihaj Muhammad, yang dimuat TIME, seperti dilansir dari KOMPAS, Rabu, 22 Maret 2017.

Baca Juga: Trump Larang Warga Dari 7 Negara Muslim Ini Masuk AS

Yang Terhormat Presiden Trump

Mewakili Amerika Serikat di Olimpiade adalah kehormatan terbesar dalam hidup saya. Saya tidak akan pernah melupakan berjalan di balik bendera Amerika ketika upacara pembukaan dikelilingi oleh rekan satu tim saya. Semuanya berasal dari olahraga yang berbeda, banyak dari berbagai agama dan etnis. Namun, dalam keberagaman itu Amerika dipersatukan oleh untuk negara kita.

Cerita saya adalah sebuah kisak klasik sebuah kota kecil di Amerika. Di kampung halaman saya, Maplewood, New Jersey, pertanyaan yang selalu muncul adalah olahraga yang akan saya geluti, bukan saya akan menggeluti sebuah olahraga. Maksud saya adalah tidak benar-benar tentang olahraga, ini tentang kesempatan-kesempatan untuk berjuang dan percaya pada takdir sendiri. Itulah yang membuat cerita tentang Amerika begitu unik dari semua kisah sebelumnya, juga tentang kisah saya dan kisah-kisah orang Amerika lainnya.

Saya mencintai Amerika karena ide berkelanjutan bahwa kami sebagai individual dan bangsa, sangat luar biasa dan sempurna. Itu adalah tanggung jawab kita bersama untuk menghormati potensi masing-masing. Sebab itu, saya menulis surat ini.

Saya adalah gambaran dari American Dream, anam sekolah umum, orang tua yang saya cintai mengatakan kepada saya bahwa kerja keras dan ketekunan, saya bisa menjadi apa pun yang saya inginkan. Dengan percaya diri dan menolak untuk menyerah tidak, saya telah mengancurkan hambatan dan stereotipe yang mengganggu.

Saya adalah wanita Muslim pertama yang mengenakan jilbab saat mewakili Amerika Serikat di Olimpiade. Saya begitu diberkati sehingga memenangkan medali Olimpiade bersama tim saya di Rio Games. Saya adalah seorang wanita Muslim berkulit hitam yang menggeluti olahraga yang tidak populer. Dan di atas panggung terbesar di dunia, saya menentang label dan menunjukkan pada dunia bahwa Muslim juga menjadi bangsa Amerika.

Namun, ketika saya mendengarkan Anda, saya merasa cerita yang Anda sampaikan menciptakan gambaran yang sungguh berbeda. Anda tampaknya melihat pengungsi yang berlindung dari teror sebagai akar terorisme daripada sebagai korban dari terorisme.

Anda melihat kontribusi negara ini untuk menampung pengungsi sebagai sebuah "kesepakatan buruk", bukan sebagai sebuah contoh tentang bagaimana Amerika memperjuangkan sesuatu. Anda tampaknya melihat jilbab yang saya kenakan sebagai sinyal ancaman dan penyebab ketakutan.

Anda mengatakan, "saya pikir Islam membenci kita." Itu bukan hanya pendapat yang salah, itu memprovokasi sehingga muncul ketakutan dan kebencian. Seperti yang kita lihat, hal itu telah memprovokasi kekerasan terhadap Muslim dan tempat ibadah kami. Tentu itu bukan niat Anda, saya tidak ingin mempercayai itu. Namun, saya merasa bahwa Anda dan pemerintahan Anda melihat saya dan orang-orang seperti saya tidak sebagai bagian dari Amerika, tetapi sebagai "orang lain."

Larangan yang Anda buat bagi pendatang dari negara-negara masyoritas Muslim dan pengungsi Suriah memiliki implikasi ke negara-negara lain yang tidak masuk ke dalam daftar larangan.

Implikasinya bukan hanya sekadar mengacu di ruang-ruang pengadilan, tetapi juga saat dalam antrean Starbucks. Tidak hanya dalam berita-berita di malam hari tapi hal ini menjadi teror bagi anak-anak yang mempertanyakan keselamatan orangtua dan tempat tinggalnya.

Apakah ini yang Anda inginkan ketika Anda mengambil sumpah untuk menegakkan Konstitusi Amerika Serikat?

Iklim ketakutan dan kebencian yang dipicu dan dibakar melalui kampanye-kampanye Anda mendapatkan momentum lewat kebijakan Anda. Sejak terpilihanya Anda dalam pemilu, saya telah berulang kali diperiksa di bandara, dianggap mencurigakan, dan di jalanan New York, saya diminta untuk pulang ke negara asal saya.

Ini bukan Amerika yang saya tahu dan ini bukan Amerika yang menjadi inspirasi dan contoh kepemimpinan.

Ada 3 juta Muslim Amerika. Mereka mengajar anak-anak kita, merawat kerabat kita yang sakit, terlibat dalam perang, dan meskipun Anda kerap menyerang, mereka tetap berdiri dengan bangga di garis depan menjaga semua orang Amerika tetap aman.

Keyakinan saya mengajarkan saya untuk membantu mereka yang kurang beruntung dan berbicara menentang ketidakadilan.

Presiden Trump, lihatlah kenyataan ini: kita tak memiliki masalah pengungsi. Masalah itu sama sekali tidak ada. Tapi saya khawatir sebuah kampanye teror sedang dikobarkan terhadap idealisme bangsa Amerika dalam hal keadilan dan kesetaraan.

Gerakan Olimpiade memilih lambang cincin beraneka warna yang saling mengikat untuk menggambarkan persatuan umat manusia. Olahraga selalu menjadi penyeimbang dan simbol perdamaian, bahkan di zaman dahulu, olahraga bisa menghentikan peperangan.

Selain menjadi Muslim perempuan pertama yang mewakili Amerika, hal yang paling saya cintai dari Olimpiade adalah pengalaman bahwa kesuksesan saya merupakan hasil dari kesempatan, kebebasan, dan kemerdekaan diri saya sebagai bangsa Amerika.

Mengatasi kendala adalah tantangan saya sebagai seorang atlet. Kini, saya menghadapi tantangan sebagai warga negara. Saya pernah mewakili Anda. Kini Anda mewakili saya. Saya mendesak agar melakukannya dengan kerendahan hati, penuh perhatian, dan murah hati untuk menjalankan janji suci Anda.

Sebagai seorang warga Muslim Afrika-Amerika yang mencintai negaranya, agama saya menganjurkan agar saya tetap penuh harapan, percaya pada kemampuan melawan kefanatikan dengan cinta, dan menarik kekuatan dari perbedaan.

Itulah yang membuat Amerika menjadi hebat.

Hormat saya,

Ibtihaj Muhammad

Sukai/Like Fan Page Facebook RIAUONLINE dan Follow Twitter @red_riauonline