Aktual, Independen dan Terpercaya


Terungkapnya Kasus Bocah 6 Tahun yang Hilang Selama 38 Tahun

Anak-Hilang.jpg
(LIPUTAN 6.COM/PEOPLE)

RIAU ONLINE - Jumat, 25 Mei 1979, pagi menjadi kali terakhir Etan Patz terlihat. Saat itu, bocah 6 tahun itu tampak menuju halte bus sekolah yang jauhnya dua blok dari tempat tinggalnya, tanpa didampingi. Etan saat itu mengenakan pakaian serba biru, jaket, sepatu, tapi dari Eastern Airlines dan tas kain warna putih berpola gajah sirkus. Ia juga membawa mobil-mobilan Matchbox koleksinya.

Hingga sore, sekitar pukul 15.30, Etan tak kunjung kembali dari sekolah. Julie, sang ibu lantas menghubungi rumah Chelsea Christina Altman, teman dekat putranya yang rumahnya di seberang jalan. Gadis cilik itu mengatakan bahwa Etan tak muncul di bus, padahal ia sudah menyediakan tempat duduk untuk sahabatnya itu. Ternyata, Etan juga tak hadir di sekolah.

Kasus penculikan Etan kemudian merebak menjadi isu nasional. Ramai dikabarkan media berkat upaya sang ayah Stanley Patz, seorang fotografer. Stanley menggunakan hasil jepretanny untuk mencari putranya.

Pada 2001, Etan dinyatakan meninggal karena tak diketahui keberadaannya. Jasadnya hidup atau mati, tak pernah ditemukan. Selama 38 tahun, kasus pembunuhan Etan Patz terus menjadi 'misteri abadi'.

Baru-baru ini, kasusnya kembali mengemuka. Juri di Pengadilan New York menyatakan terdakwa Pedro Hernandez bersalah atas kejadian yang menimpa Etan Patz. Dilansir dari Liputan6.com, Pedro diduga menjadi otak dari upaya penghilangan nywa dan penculikan bocah malang itu. Pria berusia 56 tahun itu dinyatakan bersalah setelah sembilan orang juri mencapai kata sepakat usai berdiskusi melalui dua persidangan.

Pedro diketahui bekerja di toko Clerk, letaknya tidak jauh dengan rumah Etan. Dalam persidangan pria itu mengaku mengajak Etan ke ruang bawah tanah di rumahnya lalu mencekiknya. Pedro mengaku tengah berada di bawah pengaruh alkohol saat peristiwa itu.

Namun, pembela hukumnya mengatakan tidak mempercayai pengakuan kliennya. Pasalnya, Pedro mengalami masalah mental dan kesulitan intelektual. Sebab itu, mereka berdali bahwa terkadang Pedro terkadang tidak bisa membedakan antara khayalan atau fantasi dalam pikirannya maupun realitas yang terjadi dalam hidupnya.

"Sangat dicurigai penyelidik Kepolisian memberikan pengaruhnya dan memanfaatkan rendahnya IQ (Pablo Hernandez)," ujar tim pembela hukum.

Menurut tim pembela hukumnya, Pedro terindikasi menderita gangguan mental kuat. Hal itu tampak saat polisi sedang melakukan pemeriksaan. Mereka mengatakan, ada di satu hari pemeriksaan berlangsung dengan waktu begitu panjang, akibatnya Hernandez sampai stres dan berlaku seperti bayi menangis meringkuk di lantai dan meminta pulang.

Tim pembela hukum semakin yakin bahwa Pedro tak bersalah, sebab sama sekali tidak ada bukti yang memberatkan Pedro saat persidangan. Keyakinan itu diperkuat dengan jasad Etan yang tak pernah ditemukan hingga saat ini.

Meski demikian, Jaksa Distrik Manhataan, Cyrus Vance mengatakan, pengakuan pelaku sudah cukup membuat misteri ini terpecahkan. Hal itu pun melegakan seluruh AS.

"Hilangnya Etan Patz menghantui keluarganya di New York dan seluruh negara selama kurang lebih empat dekade," ucap Vance.

"Dari semua juri telah menghapus semua keraguan mereka menyatakan Pedro Hernandez sebagai pelaku penculikan dan pembunuhan anak yang hilang itu," sebut dia.

Presiden AS Ronald Reagen pada 1983 bahkan mendeklarasikan 25 Mei tiap tahunnya sebagai anak hilang di AS. Kasus Etan juga telah mengubah cara dan pendekatan perawatan serta penjagaan anak di New York dan AS.

Kasus hilangnya Etan membuat gempar seluruh negara, sehingga turut mencari Etan. Etan menjadi anak pertama AS yang pengumuman pencariannya dipasang di kemasan susu seluruh negara. Orang tua Etan pun menyerukan agar seluruh negara memakai penanda jari di kelas-kelas untuk mengetahui memastikan bahwa sang anak sudah berada di sekolah atau belum.

Sukai/Like Fan Page Facebook RIAUONLINE dan Follow Twitter @red_riauonline