Desa Ini Melarang Kumandang Adzan dan Pakaian Muslim

Ilustrasi-Muslim-Uganda.jpg
(REPUBLIKA)

RIAU ONLINE - Sebuah desa di Hungaria "perang melawan budaya Muslim" dengan melarang dikumandangkannya adzan hingga larangan berpakaian Muslim. Upaya itu dilakukan untuk menarik warga Kristen Eropa lain yang keberatan dengan keberagaman di negara mereka sendiri.

"Kami terutama menyambut orang-orang dari Eropa barat- mereka yang tidak ingin hidup dalam masyarakat multikultural. Kami tidak ingin menarik warga Muslim ke desa kami," kata Laszlo Toroczkai dilansir dari BBC Indonesia, Rabu, 8 Februari 2017.

Kepala desa Asotthalom, sebuah desa terpencil di Hungaria Selatan itu mengatakan sangat penting bagi desanya untuk melestrasikan tradisi. Menurutnya, ika sejumlah besar umat Islam tiba di desanya maka mereka tidak akan mampu mengintegrasikan diri ke dalam komunitas Kristen.

Baca Juga: Ini Hakim Yang Bikin Trump Marah Usai Batalkan Keppres Antimuslim

"Kita bisa melihat komunitas Muslim besar di Eropa Barat yang belum mampu membaur dan kami tidak ingin mendapatkan pengalaman yang sama di sini. Saya ingin Eropa tetap menjadi milik Eropa, Asia milik orang Asia dan Afrika milik Afrika. Sesederhana itu," katanya.

Selam puncak krisis migran, setiap harinya ada 10.000 orang melintasi perbatasan dari Serbia ke Hungaria, yang letaknya hanya beberapa menit dari desa Asotthalom.

Ternyata, sang Kades memanfaatkan kecemasan warga dalam menghadapi banjir pengungsi dengan menetapkan sejumlah kebijakan yang keabsahannya dipertanyakan.

Peraturan lokal itu melarang pemakaian baju Muslim, seperti jilbab, kumandang adzan, dan melarang komunitas gay bermesraan di depan umum. Bahkan, ia berupaya mengubah hukum untuk mencegah pembangunan Masjid, meski saat ini terdapat dua orang Muslim yang mendiami desa itu.

Klik Juga: Masyaallah, Yahudi Berikan Kunci Rumah Ibadah Saat Masjid Muslim Dibakar

Banyak pengacara yang menilai bahawa hukum itu bertentangan dengan konstitusi Hungaria. Sebagai bagian dari pengkajian menyeluruh dari peraturan daerah yang baru, pemerintah setempat akan memberlakukannya pada pertengahan Februari ini.

Namun, ketetapan itu juga mendapat dukungan dari warga desa. Satu diantaranyanya adalah Eniko Undreiner. Ia mengaku "sangat menakutkan" melihat kondisi tahun lalu, saat gelombang pendatang berjalan kaki melewati desa tatkala mereka melintasi batas negeri itu.

"Saya menggunakan waktu untuk bersama dengan anak-anak saya saja di rumah -ya memang ada kalanya saya sangat ketakutan waktu itu," katanya.

Sementara, dua Muslim yang tinggal di desa itu tidak bersedia berbicara karena takut akan berakibat buruk pada diri mereka. Namun, warga desa lain mengatakan bahwa dua Muslim itu sepenuhnya membaur dengan masyarakat sekitar.

Lihat Juga: Kejam, Walikota Ini Usir Ribuan Umat Muslim Seluruh Kota

"Mereka tidak memprovokasi siapa pun. Mereka tidak mengenakan niqab, mereka tidak melecehkan orang lain. Saya kenal mereka secara pribadi. Mereka baik hati," katanya.

Kepala desa berharap agar wilayahnya bisa menjadi gugus depan untuk upaya yang mereka sebut sebagai "perang melawan budaya Muslim." Ia bahkan menerapkan patroli 24 jam untuk menjaga perbatasan desa berharap bisa menarik warga kulit putih Eropa untuk tinggal di desa itu.

 Sukai/Like Fan Page Facebook RIAUONLINE dan Follow Twitter @red_riauonline