Aktual, Independen dan Terpercaya


Inilah Identitas Teroris Kanada Penembak Jamaah Saat Salat Malam

Penembakan-Muslim-di-Kanada.jpg
(REUTERS/MATHIEU BELANGER)
ombudsman

RIAU ONLINE - Alexander Bissonnette membantai enam orang jemaah masjid di Quebec, Kanada. Menurut pengamat keamanan, ia diyakini telah digerakkan oleh kebencian terhadap Islam.

Sebelumnya, publik mengenal Alexander Bissonnette sebagai seorang mahasiswa dan provokator di internet. Pemuda berusia 27 tahun itu oleh kalangan aktivis Kanada, disebut kerap membubuhkan komentar buat mendukung kelompok ekstremis kanan dan nasionalistik. Terinspirasi oleh tokoh nasionalis Perancis, Marine Le Pen, ia juga sering melayangkan komentar nyinyi terhadap pengungsi.

Saat ini, Bissonnette didakwa dengan pasal pembunuhan usai membantai enam orang dan melukai 19 orang lainnya di sebuah masjid di Kota Quebec, Kanada, Minggu, 29 Januari 2017.

Baca Juga: Kronologi Penembakan Jamaah Masjid Di Kanada

Menurut François Deschamps, ketua organisasi lokal yang bekerja untuk pengungsi dan memonitor kaum ekstremis di Quebec, Bissonnette sering menyerang laman Facebook mereka. Bissonnette sering menulis komentar ekstrim di media sosial yang merendahkan pengungsi dan feminis.

"Tingkahnya itu bukan kebencian, melainkan bagian dari identitas baru kaum neo nasionalis yang cendrung intoleran," katanya dikutip dari DW.COM, Rabu, 1 Februari 2017.

Di Universitas Laval, Bissonnette tercatat sebagai mahasiswa di jurusan Antropologi dan Ilmu Politik. Ia antara lain mendukung gerakan supremasi kulit putih, "Génération Nationale," yang antara lain menolak "multikulturalisme."

Klik Juga: Teroris Di Kanada Ini Tembak 40 Warga Muslim, 5 Tewas Saat Salat Malam

Tersangka diringkus di dalam mobilnya setelah menghubungi polisi dan mengaku ingin bersikap kooperatif. Sebelumnya, kepolisian sempat mengumumkan tengah melakukan pencarian dua tersangka insiden tersebut. Polisi sempat menangkap salah seorang tersangka, namun ternyata seorang saksi mata dan telah dibebaskan pada Senin, 30 Januari 2017.

Sementara di Washington, pakar keamanan Amerika Serikat cenderung menduga pelaku digerakkan oleh kebencian terhadap kaum muslim.

Sukai/Like Fan Page Facebook RIAUONLINE dan Follow Twitter @red_riauonline