Berkat Ayat Alquran, Koki Hindu Ini Selamat dari Insiden Berdarah di Bangladesh

Koki-Restoran-Tempat-Insiden.jpg
(BBC INDONESIA)

RIAU ONLINE - Sejumlah kisah keberanian muncul usai terjadinya insiden berdarah di sebuah restoran di Dhaka, Bangladesh, 1 Juli 2016 lalu akibat serangan lima orang bersenjata dari kelompok milisi Islam.

Saat itu, pukul 20.45 pada jumat malam, sebelum perayaan Idul Fitri berlangsung. Restoran Holey Artisan Bakery and O'Kitchen di daerah elite Dhaka mulai dipenuhi pengunjung, sebagian besar warga Jepang dan Italia.

Di tengah keramaian pengunjung, tiba-tiba lima pemuda menghamburan tembakan dan mulai menebas pengunjung dengan senjata tajam.

Shishir Sarker, salah seorang koki Holey Artisan Bakery, baru saja keluar dari ruangan pendingin dengan sepiring pasta di tangan saat dia mendengar suara teriakan.

"Lalu saya melihat salah satu penyerang. Satu tangannya memegang pedang atau golok, dan sebuah senjata api diusung melintang di dadanya," kata Sarker mengenang, dikutip dari BBC Indonesia, Sabtu, 14 Januari 2017.

Sarker khawatir, jika para penyerang mengetahui bahwa ia pemeluk Hindu mungkin dia langsung dibunuh.

Baca Juga: Terbongkar Skandal Seksualnya Dengan Pelacur, Trump Berang Ke CIA

"Pada saat itu, seorang pria Jepang berteriak ke saya. 'Tolong aku!' Saya berbalik dan masuk ke dalam ruang pendingin dan juga membantunya masuk ke dalam," katanya.

Kedua pria itu menarik pintu ruang pendingin yang tidak memiliki tuas pengunci dari dalam, untuk tetap menjaganya tetap dalam kondisi tertutup.

"Si pria Jepang bertanya ke saya, siapa laki-laki yang menyerang. Saya bilang saya tidak tahu, tapi jangan risau, polisi akan datang," ungkapnya.

Nyaris dua jam, kedua pria itu berdiam di dalam ruang pendingin. "Benar-benar dingin. Kami bergerak sedikit supaya tetap hangat, seperti sit-up sambil menjaga pintu tetap menutup," ujar Sarker.

Salah satu penyerang tiba-tiba mencoba membuka ruang pendingin. Sarker dan pria Jepang itu berpegangan sangat kuat dan si penyerang gagal membuka, kemudian pergi.

"Dia pergi, tapi kini mereka tahu ada orang di dalam," katanya.

Setelah 10-15 menit kemudian, para penyerang ternyata kembali. Sementara, Sarker dan pria Jepang itu sangat kedinginan hingga kehilangan tenaga. Pintu itu ditarik para penyerang dan berhasil dibuka.

Klik Juga: Kelompok Indonesia Ini Ditetapkan Sebagai Teroris Oleh AS

Si penyerang lantas menyuruh keduanya keluar. Sarker yang sangat ketakutan langsung tiarap di tanah. Jika ia berdiri, Sarker khawatir akan langsung ditebas para penyerang itu dengan goloknya.

"Saya berkali-kali mengatakan, 'Demi Allah, jangan bunuh saya'," kenangnya.

Si penyerang menyangka Sarker adalah seorang muslim, dia pun tidak dijadikan target. Sarker lalu disuruh bergabung dengan sejumlah koleganya di sisi lain restoran.

"Saya merangkak dengan kedua tangan dan lutut melintasi mayat-mayat dan darah. Kemudian tiba-tiba saya mendengar dua bunyi tembakan. Pria Jepang yang bersama saya di ruang pendingin telah tewas," ungkapnya.

Bersama rekan kerjanya yang lain, Sarker duduk di meja. Semuanya menundukkan kepala. Setelah pukul 02.00, salah seorang penyerang bertanya siapa koko retoran. Semua rekan kerja Sarker menunjuk ke arah Sarker. Dia lalu dibawa ke dapur.

Mereka bertanya, makanan apa yang restoran itu miliki, apakah punya ikan laut dan udang. "Saya jawab, ya kami punya. Mereka menyuruh saya untuk menggorengnya dan menghiasnya dengan bagus di atas piring," kata dia.

Saat Sarker memasak, salah seorang penyerang masuk ke dapur. Dia menayakan nama Sarker. Sarker menjawab dengan nama depannya. Sebab, jika ia menyebutkan nama belakangnya, maka penyerang akan dengan mudah mengetahui bahwa ia seorang Hindu.

Lihat Juga: Di Penjara Konvensional, Napi Teroris Masih Bisa Rancang Serangan

Mungkin, si penyerang curiga dan meminta Sarker mengucapkan ayat Alquran. Sambil terus menggoreng ikan, dengan tengan Sarker membacakan salah satu ayat Quran yang ia ketahui.

"Seumur hidup, saya punya banyak teman muslim. Jadi saya tahu beberapa ayat dalam Quran. Namun saya sangat takut. Saya berpikir, apakah dia bisa diyakinkan?" ungkapnya.

Saat itu masih dalam Ramadan, makanan disiapkan sebelum subuh kepada para tawanan muslim dan staf restoran. Sarker tak mampu menelan makanannya karena ketakutan.

Sarker berpikir jika ia tidak makan, mereka akan berpikir bahwa ia tidak berpuasa selama hari itu dan mereka akan menebak bahwa ia bukan muslim.

Usai fajar menyingsing, Operasi Thunderbolt digelar yang melibatkan pasukan elite Bangladesh dan kendaraan lapis baja. Drama penyanderaan pun berakhir dan lima orang penyerang terbaring kaku. Sarker dan sejumlah rekan kerjanya yang masih hidup diselamatkan.

Kini bagi koki muda itu, hidup tak akan pernah sama lagi. Dia kembali bekerja, meski masih dihantui trauma akibat insiden tersebut.

"Saya tidak melihat masa depan. Saya tidak bisa tidur nyenyak. Ketika saya sendiri dan saya teringat malam itu, saya tidak bisa melakukan apapun, saya merasa sangat takut," ungkap.

Sukai/Like Fan Page Facebook RIAUONLINE dan Follow Twitter @red_riauonline