Putra Mahkota Osama bin Laden Jadi Incaran Amerika Serikat

Putra-Osama-bin-Laden-Hamza-bin-Laden.jpg
(INTERNET)

RIAU ONLINE - Hamza, Anak laki-laki termuda Osama bin Laden masuk dalam daftar teroris oleh pemerintah Amerika Serikat, pada Kamis, 5 Januari 2016, kemarin. AS juga membekukan seluruh aset yang mungkin ia miliki di kawasan-kasan yang masuk yuridiksi Amerika

Kementerian Luar Negeri di Washington mengatakan bahwa Hamza yang saat ini telah berusia 20 tahunan makin aktif memimpin jaringan Al Qaida, organisasi yang didirikan sang ayah.

Hamza diduga merencanakan aksi balas dendam untuk kematian ayahnya. Lalu, siapa Hamza? Bagaimana dinas rahasia AS menelusuri jejaknya?

Usai pasukan khusus AS menggelar operasi di rumah persembunyian Osama bin Laden di Abbottabad, Pakistan, awal Mei 2012, sosok Hamza semakin terang. Dalam operasi yang menewaskan Osama itu, ditemukan berbagai dokumen dan diantaranya surat-surat dari Hamza untuk ayahnya.

Baca Juga: Benarkah Bin Laden Muda Di Persiapkan Sebagai Pemimpin Al Qaeda?

Para analis CIA menyimpulkan dari berbagai surat dan sokumen itu bahwa pada suatu rentang masa, Osama tak bertemu Hamza selama delapan tahun, seperti dilansir dari BBC Indonesia, Jumat, 6 Januari 2016.

Di persembunyian, Pakistan, Osama diyakini sudah mengatur secara rinci 'jalur dan pelatihan' untuk menjadikan Hamza 'sebagai tokoh penting' Al Qaida, hingga akhirnya akan menggantikan sang ayah sebagai pemimpin kelompok itu.

Saat rencana tersebut dimatangkan sang putra mahkota menjalani tahanan rumah di Teheran, Iran. Beberapa anggota keluarga besar Bin Laden melarikan diri ke Iran setelah invasi AS ke Afghanistan.

Dalam dokumen yang ditemukan CIA itu disebutkan bahwa Hamza menyebut dirinya 'lahir dari kawah besi' dan siap untuk meraih kemenangan atau mati sebagai martir.

"Yang membuat saya sedih adalah laskar mujahidin sudah bergerak tapi saya tak bisa bergabung ke laskar ini. Dengan ini saya katakan kepadamu dan ke semua orang bahwa Alhamdulillah saya mengikuti jejak jihadmu," tulis Hamza dalam salah satu surat untuk ayahnya.

Klik Juga: Putra Osama Bin Laden Desak Jihadis Suriah Bersatu Bebaskan Palestina

Hamza mengungkapkan kesedihannya dan mengatakan bahwa ia ingin bersama ayahnya lagi setelah 13 tahun harus dipisahkan dari ayahnya demi alasan keamanan. "Ayah mengucapkan selamat tinggal dan kemudian pergi. Ini seakan kita mencabut hati dan meninggalkannya begitu saja di sana," tulis Hamza.

Sebab itu, dimungkinkan untuk memverifikasi surat dan dokumen yang ditemukan CIA itu. Menurut para pejabat keamanan AS, Al Qaida dipimpin oleh pria kelahiran Mesir, Ayman al-Zawahiri sejak kematian Osama pada 2012 silam. Perlahan namun pasti, Hamza memiliki peran sangat penting di jajaran para petinggi Al Qaida.

Sebelumnya, Hamza mendorong para pengikutnya untuk melancarkan pemberontakan terhadap kerajaan Saudi. Hal itu disampaikannya melalui pesan audio yang tidak diketahui kapan dibuat.

Ia juga pernah mendesak para petempur di Suriah untuk bersatu dan mengatakan bahwa resolusi di Suriah akan berujung dengan pembebasan Palestina dan mendesak Muslim di Barat untuk melakukan serangan, seperti yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir.

Lihat Juga: Tujuh Hal Tentang Pemimpin Al-Qaeda, Osama Bin Laden

"Pada 2015, (Hamza) bin Laden menyerukan serangan terhadap kepentingan-kepentingan AS, Prancis, dan Israel di Washington DC, Paris, dan Tel Aviv," kata pernyataan yang dikeluarkan Kementerian Luar Negeri AS.

Hamza diperkirakan lahir di Jeddah, Arab Saudi pada 1989. Ia adalah putra Osama dari salah satu istrinya, Khairiah Sabar. Kini, Hamza sudah dilepaskan dari tahanan di Teheran dan tidak diketahui keberadaannya sekarang.

Pada April 2011, petinggi Al Qaida, Atiyah Abd al-Rahman, menulis surat kepada Osama bin Laden berisi rencana untuk menyiapkan Hamza menjadi pemimpin Al Qaida. Antara lain Abd al-Rahman mengatakan bahwa Hamza 'akan mengikuti latihan membuat bom dan latihan cara-cara menggunakan senjata api'.

Sukai/Like Fan Page Facebook RIAUONLINE dan Follow Twitter @red_riauonline