Sedia Payung Sebelum Hujan: Pembibitan Kakao Jelang Peremajaan Sawit di Tapung

Jamri.jpg
(RIAUONLINE.CO.ID/ISTIMEWA)

RIAU ONLINE - Melakoni usaha tentunya bicara untung dan rugi. Termasuk dalam bisnis perkebunan, di antaranya kebun sawit. Paling 'ditakutkan' petani sawit adalah ketika memasuki masa peremajaan (replanting), pokok sawit tua ditebang diganti dengan tanaman sawit baru.

Bukan tanpa sebab, untuk kembali produktif, sawit setidaknya butuh waktu bertahun-tahun sebelum bisa dipanen. Masalah inilah akhirnya mendorong masyarakat Desa Pelambaian, Kecamatan Tapung, Kabupaten Kampar, Riau, mencoba terobosan dengan berkebun kakao. Tanaman ini diketahui sangat produktif. Produk olahan unggulannya adalah cokelat. Kini, ratusan warga Pelambaian setidaknya bisa bernafas lega, ada altenatif selain berkebun sawit.

Berawal pada November 2016 lalu, saat PT Chevron Pacific Indonesia (PT CPI) menggulirkan program investasi sosial dengan penerima manfaat masyarakat Tapung, khususnya Desa Pelambaian. Warga desa inilah cikal dibentuknya ISP (Intermediate Service Provider/Induk Kelompok Binaan) Prima Jaya Tapung.

Dalam waktu singkat, kini Prima Jaya Tapung telah menjadi denyut perekonomian masyarakat setempat. Program investasi social pengembangan ekonomi PT CPI ini didasari pemetaan sosial, disebut dengan Prisma. Prisma merupakan singkatan dari Promoting Sustainable Integrated Farming, Small Medium Enterprise Cluster and Microfinance Access.

Selain Prisma, PT CPI juga mendukung masyarakat di sekitar area operasi melalui kegiatan pengembangan masyarakat dengan fokus pada pendidikan, kesehatan, lingkungan, rehabilitasi bencana, sertabudaya daninfrastruktur.

PT CPI merupakan Kontraktor Kontrak Kerja Sama dari Pemerintah Indonesia yang mengoperasikan Blok Rokan di Riau. Dalam mengoperasikan blok migas, PT CPI bekerja di bawah pengawasan dan pengendalian Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas, ataudisingkat SKK Migas.

Prisma memiliki tujuan utama program meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui peningkatan pendapatan, penciptaan lapangan kerja, peningkatan kondisi sumber daya alam dan lingkungan, dan peningkatan sumber daya manusia. 

Ruang lingkup sektor program meliputi pertanian, perkebunan, peternakan, wirausaha, keuangan mikro, air bersih dan sanitasi berbasis masyarakat, serta pusat pelayanan usaha kecil.

PRISMA menerapkan strategi “Membuat pasar bekerja untuk petani dan pelaku usaha kecil”, yang menitikberatkan pada penyediaan fungsi pendukung, yaitu akses ke berbagai layanan termasuk akses ke pengetahuan, keterampilan, bahan baku, pasar dan hubungan antar pasar, teknologi, dan lain-lain.

Dalam menjalankan kegiatan Prisma, Chevron menggandeng Yayasan Sahabat Cipta di wilayah operasi PT CPI. Prisma telah berhasil membantu para petani, pelaku usaha mikro, serta kelompok-kelompok swadaya masyarakat.

Sejak diluncurkan Januari 2015 hingga Desember 2017, program Prisma di Riau telah berhasil menjangkau hamper 2.200 petani dan pelaku usaha mikro secara langsung berasal dari 41 kelompok tergabung dalam 21 induk kelompok binaan. Dari seluruh penerima manfaat program PRISMA, pada bulan Juni 2017 tercatat 77% kelompok menunjukkan adanya peningkatan kinerja usaha.

Tanaman Kakao

 Jual Bibit Kakao Unggul Bersertifikat

Baru setahun berjalan, pusat pembibitan kakao varieras unggul dan bersertifikat dari Kelompok Tani Prima Jaya Tapung binaan PT CPI telah berkembang pesat. Bahkan tidak hanya di Desa Pelambaian, tapi juga di sembilan desa lainnya di Kecamatan Tapung yang bergabung, antara lain Desa Sumber Makmur, Trimanunggal, Tanjung Sawit, Indra Sakti, Gading Sari, Kijang Rejo, Mukti Sari dan sebagainya.

Ketua Kelompok Tani Prima Jaya Tapung, Jamri, menceritakan, sebelum adanya usaha kakao, masyarakat di Pelambaian menggantungkan roda perekonomiannya hanya dari hasil kebun sawit. Masa sulit telah dilewati kala itu, dan ke depan masyarakat setempat bakal dihadapkan dengan periode replanting, di mana pastinya sawit akan berhenti menghasilkan sementara waktu.

"Tentu saja, pendapatan masyarakat nol kembali dari sawit. Sampai akhirnya PT CPI memberikan solusi. Kita sempat berfikir, apa pekerjaan sampingan yang tetap dapat menghasilkan di desa kami ini. Hingga akhirnya datang Sofyan, pembina diutus Chevron untuk mencarikan solusinya. Kawan-kawan di sini kemudian berpikir untuk membentuk kelompok tani, dengan kebun budidaya kakao," ungkap Jamri.

Kakao saat itu terbilang 'asing' bagi masyarakat Pelambaian. Ini yang menjadi tantangan bagi Jamri dan warga lainnya memulai berkebun kakao di lahan mereka. Bayangkan, pertaruhan roda perekonomian masyarakat untuk jangka waktu beberapa tahun ke depan digantungkan dari usaha kakao mereka gagas sebagai alternatif sawit.

Namun itu tidak membuat Jamri dan kawan-kawan patah arang. "Pak Sofyan membawa bibitnya dari Aceh. Pak Sofyan menceritakan penghasilan per hektare dari kakao itu hingga 3 kilogram per batangnya. Itu saat awal dibawa ke sini, ada enam pokok bibit kakao. Jadi tidak semua dapat. Seiring berjalan waktu, ternyata hasilnya bagus," tutur Jamri.

Selama masa tersebut PT CPI dan Yayasan Sahabat Cipta tidak diam saja. Bimbingan dan pendampingan terus diberikan kepada warga Desa Pelambaian. Hasilnya, perkembangannya berjalan sangat pesat. Apalagi masyarakat telah melihat langsung hasil dari berkebun kakao. "Maka kami kembangkan terus hingga sekarang bisa seperti ini," tegasnya.

Ia menjelaskan, siapa menyangka, dulu sebelum memiliki usaha kakao, warga tidak punya cara menyiasati tanaman pengganti sawit. Hanya diam, bertahan sambil menunggu hingga dapat dipanen.

"Karena lahan kami tidak begitu luas, hanya memanfaatkan area di belakang rumah dengan luas kira-kira setengah hektare. Memang dengan luas segitu kurang menjanjikan untuk sawit, namun kalau kakao bisa dapat banyak," kata Jamri.

Berdirinya pusat pembibitan kakao varietas unggul milik Kelompok Tani Pria Jaya Tapung di Desa Pelambaian tersebut bukan ditempuh dengan 'jalan mulus'. Itu diakui langsung Jamri, dan diamini anggotanya sudah merasakan langsung hasil dari berkebun kakao, di Balai Tani milik Prima Jaya Tapung.

"Awalnya memang sulit, apalagi membuat warga lainnya menjadi yakin. Butuh keuletan. Sebelum kelompok ini ada, saya dan beberapa kawan mencoba menanam kakao sebagian. Perkembangannya terlihat dan prospek budidaya berjalan bagus. Ini karena dibina langsung oleh Chevron. Dengan begitu, masyarakat bisa lihat langsung buktinya, hingga akhirnya percaya. Hasilnya bagus, buah bagus dan bisa dijual," katanya.

Hari demi hari berjalan. Kesuksesan dirasakan masyarakat penggagas kakao kian jadi perbincangan di Desa Pelambaian dan sekitarnya. Warga mulai banyak membeli bibit untuk ditanam di rumah. Tidak cuma itu, mereka sejak awal sudah melakoni usaha kakao ini juga melakukan studi banding ke Aceh, Tapanuli Selatan hingga Sumatera Barat, guna mempelajari cara bertanam kakao, sehingga hasilnya optimal dan layak dipasarkan.

"Kami berangkat ke Aceh. Itu tiga hari belajarnya. Bagaimana prosesnya sejak awal hingga menjadi kakao unggulan. Bahkan kita juga mendatangkan orang dari Aceh ke sini mengajarkan warga lainnya, mulai dari teknik hingga praktik di lapangan. Warga antusias. Sekitar 150 orang ikut, karena mereka sudah lihat hasil dan perkembangannya," ulas Jamri.

Sembilan desa telah mengikuti kesuksesan Jamri dan warga Pelambaian. Semuanya berada di bawah binaan Kelompok Tani Prima Jaya Tapung.

"Berkat Chevron, Alhamdulillah kini perekonomian kami terbantu. Sangat besar sekali pengaruhnya, kalau tidak, masyarakat juga mungkin bingung bertanam Kakao, belum lagi masalah hama, perkembangan yang tidak optimal dan sebagainya," tambahnya.

Selama proses berjalan, Chevron memberikan pendampingan langsung kepada masyarakat. Bahkan tenaga pembinanya ditempatkan di Desa Pelambaian. Warga diajarkan mulai dari tahap pembibitan hingga pascapanen.

"Sekarang kelompok tani induk (Prima Jaya Tapung) sudah beranggotakan 30 orang. Lainnya binaan di desa-desa. Banyak ingin bergabung, hanya saja kami cukupkan untuk 30 orang, lainnya masuk menjadi kelompok binaan," ungkap Jamri.

Kini hasil keringat pembibitan kakao warga Desa Pelambaian gaungnya ke kabupaten-kabupaten lain di Riau, padahal baru setahun berjalan. Masyarakat setempat tidak hanya mendapat uang dari hasil menjual bibit, melainkan meraup pundi-pundi Rupiah.

"Penghasilan lainnya, kita dipanggil orang ke sana kemari memberi pelatihan bertanam kakao. Lalu penghasilan dari pokok entres milik kami banyak dibeli. Kakao ini sangat menjanjikan, pelan-pelan kita kembangkan, bahkan sebagian kebun sawit di sini sudah kami ganti dengan kakao," lanjutnya.

Istilah Entres memang dikenal efektif dalam budidaya kakao. Entres merupakan teknik penyambungan batang atas diperoleh dari tanaman induk kakao unggul ke batang bawah tanaman kakao lainnya.

Sebatang pohon kakao tak perlu diremajakanseperti sawit, jika produktivitasnya rendah dan berkualitas tidak bagus. Untungnya lagi, kakao tak mengenal usia produktivitas seperti tanaman perkebunan lainnya, karena dapat dipanen kapan pun.

"Dulu, bibit Entres kami beli dari Aceh. Sementara batang bawah didatangkan dari daerah lain, misalnya Sumatera Barat. Sekarang kami justru menjual entresnya, dan menjadi pemasukan tambahan. Di rumah-rumah anggota kita juga melakukan pembibitan, melibatkan para ibu-ibu. Ada peluang kerja baru disela-sela kegiatannya," kata Jamri menceritakan.

Bibit Kakao

Lapangan pekerjaan baru menjalar ke seluruh warga, sehingga tidak hanya laki-laki saja berpenghasilan, tapi juga ibu rumah tangga. "Ada lagi sampingannya, kerajinan tangan bisa juga," tuturnya.

Saat ini, berkat kecermatan PT CPI, masyarakat Pelambaian awalnya meragukan usaha kakao, kini justru berlomba-lomba meraup penghasilan dari pohon budidaya dapat berkembang bagus di kawasan tropik tersebut. Bahkan dalam usia pertumbuhan satu setengah tahun, pohon kakao sudah bisa menghasilkan buah, dengan panen optimalnya diusia dua tahun.

"Beda dengan sawit yang prosesnya lama, rata-rata tiga tahun. Jadi kami sambil menunggu, tanam kakao disisip di pokok sawit. Saat sawit panen dan kakao juga panen, hasilnya pun ganda. Ada alternatif menjelang sawit diremajakan. Jadi kami bersyukur sekali sekali ada pembinaan dan bantuan Chevron," puji Jamri.

Saat ini, Kelompok Tani Prima Jaya Tapung fokus pada penjualan bibit kakao, karena usia pohonnya belum tahap panen. Wajar saja, usaha ini digagas pada November 2016 lalu, namun nyatanya sudah menghasilkan dalam segi lain, selain buahnya. "Mungkin kita bisa produksi panen buah pada awal 2019. Sebelum itu, kami sudah berpenghasilan dari aspek lain dalam budidaya Kakao," kata dia.

Ekonomi Warga Menggeliat
Ketakutan akan replanting sawit kini tidak lagi menghantui kehidupan masyarakat Desa Pelambaian dan sembilan desa lainnya di Tapung, Kabupaten Kampar. Mereka telah memiliki kakao yang menjanjikan. Kelompok Tani Prima Jaya Tapung bahkan memiliki sertifikat dan legalitas pembibitan Kakao.

"Artinya layak untuk di pasarkan dan sesuai standar. Kecambah yang kita tanam bersertifikat. Sertifikat itu untuk verifikasi legalitas kecambah, kalau tidak ada, hasil kita tidak bisa di pasarkan. Jadi ada aturannya," Jamri meyakinkan.

Sejak digagas November 2016 lalu, laba dari penjualan bibit Kakao telah mencapai Rp 130 juta. Ini baru permulaan, sebab Kelompok Tani Prima Jaya Tapung belum bisa memenuhi begitu banyaknya pemesanan pengadaan bibit, karena masih terbatas. "Sudah banyak, bahkan antri minta pengadaan bibit ke kita, cuma keberadaan bibit belum mencukupi permintaan," ucapnya.

Permintaan itu berasal dari dalam Kabupaten Kampar hingga daerah lain di Riau, di antaranya Pelalawan dan Rohil. Belum lagi dinas-dinas terkait juga memesan bibit berkualitas dan bersertifikat hasil olahan Prima Jaya Tapung. Melihat progres tersebut, bukan hal mustahil Desa Pelambaian dan sembilan desa lainnya akan berkembang pesat menjadi wilayah penghasil Kakao di Riau.

Ia menjelaskas, target ke depan, dari sembilan desa yang ikut dalam bimbingan Prima Jaya Tapung. Saat ini tahap awalnya adalah bibit, sekaligus penyuplai kebutuhan kita dari yang memesan.

“Kami berencana menjadi pengepul buah kakao jika nanti panen. Kita yang nampung lalu berkoordinasi dengan eksportir untuk pemasarannya," kata Jamri optimitis.

Kakao, tuturnya, juga tidak ada putusnya dan tak ada musimnya, selalu produksi. Dulu, warga sangat awam semua, termasuk menggunakan gadget (gawai). Kini warga rata-rata sudah punya gadget, dipakai untuk pemasaran produk, termasuk via media sosial dan jejaring. 
Uang untuk membeli gadget itu bukan dari kantong pribadi, tapi hasil kakao. Misalnya dipanggil untuk memberikan materi, menyambung bibit (entres), perawatan kebun dan sebagainya," ungkapnya.

"Dulu kami memanggil tutor dari Aceh, sekarang kami yang dipanggil memberi pelatihan. Ini berkat kegigihan masyarakat serta bantuan CPI. Penghasilan kami jadi bervariasi.

Saat ini, Kelompok Tani Prima Jaya Tapung juga sudah memiliki Koperasi sehingga mempermudah masyarakatnya. Koperasi tersebut juga andil dari PT CPI, mengucurkan modal awal sebagai motor penggerak usaha kakao di Desa Pelambaian.

"Sistemnya dari anggota untuk kemakmuran anggota juga. Jika dulu ada yang tak bisa budidaya kakao karena keterbatasan biaya, sekarang sudah tidak lagi. Koperasi bisa menyediakan, misalnya kecambah," lanjutnya.

Berkat bimbingan Chevron Kelompok Tani Prima Jaya Tapung berkembang dengan profesional dan mampu menjaga mutu. Mereka juga membentuk divisi-divisi menangani dan mengawasi bidangnya masing-masing, termasuk pembimbingan terhadap sembilan desa lainnya yang berada di bawah unit Prima Jaya Tapung.

Rapat Petani Kakao di Desa Pelambaian, Kampar, Riau

"Jadi ada divisi untuk quality control, sehingga produk yang dihasilkan sama-sama bagus dan layak. Andil PT CPI juga yang menjadikan masyarakat kami lebih mandiri, bahkan tak bergantung sepenuhnya lagi terhadap sawit. Sampai sekarang kami terus dibimbing untuk lebih baik lagi, produktivitas meningkat khususnya dalam perkebunan," tutup Jamri mengakhiri perbincangan.

Kampar Menuju Ikon Komoditas Kakao

Kepala Desa Pelambaian, Supriono menuturkan, perkebunan kakao saat ini menjadi pemasukan baru, sekaligus menunjang perekonomian warga di Desa Pelambaian. Program pertama digagas di desa tersebut berjalan sesuai yang diharapkan berkat bantuan PT CPI. Kekhawatirannya terkait replanting Sawit untuk jangka waktu mendatang pun sudah pupus.

"Saya sempat berpikir, alangkah berbahayanya nasib warga jika tidak ada alternatif selain sawit. Ini merupakan program pertama kami dan berjalan bagus prospeknya. Sekaligus antisipasi dini menghadapi replanting sawit mendatang. Melalui budidaya tanaman kakao bisa mengubahnya menjadi jadi sumber mata pencarian baru," jawab Supriono.

Ia berharap kakao ke depan bisa menjadi ikon Kampar, maupun Riau. Sementara target jangka panjang tanaman ini bisa go international. Semuanya tentu tidak lepas dari andil Chevron yang memberikan bantuan.

“Ini positif sekali, masyarakat diberi bekal ilmu dan kemampuan, jadi tidak semata-mata dana saja," imbuhnya.

Dengan adanya Chevron, asa masyarakat dan Kelompok Tani Prima Jaya Tapung untuk terus berkembang kian nyata. Usaha tersebut juga memiliki target ke depan, di mana nanti mereka memiliki kebun induk dan entres sendiri, sehingga tak perlu lagi mendatangkannya dari daerah lain, karena sementara ini masih terbatas. Berikutnya, memiliki pabrik mini untuk mengolah cokelat yang dihasilkan pohon Kakao, sehingga buah yang terkumpul dapat diolah langsung.

Cara Budidaya Kakao
Jamri dan beberapa anggota Kelompok Tani Prima Jaya Tapung sempat menunjukkan bagaiman cara mengembangkan tanaman kakao. Pertama harus diperhatikan adalah memastikan kecambah dan pokok entresnya berserfitikat, seperti dimiliki oleh Prima Jaya Tapung.

Dengan begitu, hasil dipasarkan layak. Setelahnya, pokok atau batang bawah dipotong menggunakan pisau membentuk huruf V, sepanjang kira-kira satu sentimeter. Sementara entres sudah disediakan juga disayat membentuk V.

Perlu diingat, satu pokok entres bisa dipakai untuk beberapa tanaman bawah dari kakao. Jika dipesan dari luar daerah, pastikan kalau bagian ujung entres dilapisi lilin, menjaga kambiumnya tetap bagus.

Kemudian masuk ke tahap teknik sambung (menyambungkan tanaman bawah kakao dengan entres). Masing-masing bagian sudah dipotong menyerupai huruf V tadi kemudian dipasangkan atau dimasukkan. Pastikan satu bagian batangnya dalam posisi sejajar, meski bagian lainnya berlebih (lebih besar atau kecil).

Setelah itu ke tahap pengikatan, menggunakan plastik es ukuran kecil. Plastik tersebut diregangkan sehingga menjadi lebih panjang. Lilitkan itu pada bagian batang yang disambung hingga kokoh. Perlu diingat, bagian batang bawah mesti disisakan daunnya kira-kira empat sampai delapan helai. Tujuannya adalah untuk menyerap makanan. Ketika kemungkinan setekan gagal, maka akan tumbuh tunas baru, sehingga masih bisa disambung ulang.

Setelah disambung, dilakukan proses perawatan sebagaimana mestinya. Proses inilah yang membutuhkan keuletan dari petani kakao itu sendiri, sehingga menentukan kualitas nantinya. Jika prosesnya dari tahapan kecambah, membutuhkan waktu perkembangan hingga tiga bulan, baru bisa dilakukan proses sambung pucuk dengan entres yang ada.

Bahkan proses sambung pucuk ini juga dapat diterapkan pada pohon kakao sudah tumbuh besar. Itu dilakukan jika pohon tersebut menghasilkan buah berkualitas rendah sehingga tidak perlu lagi dilakukan replanting kakao. Hasilnya sudah pasti ada perubahan, tergantung pokok Entresnya.

Jika ingin memperdalam proses dari awal tahapan budidaya Kakao ini, Anda bisa berkunjung ke pusat Pembibitan Kakao Faritas Unggul Kelompok Tani Prima Jaya Tapung, di Jalan Mawar Desa Pelambaian Kecamatan Tapung, Kabupaten Kampar Provinsi Riau.

Bak kata pepatah, sedia payung sebelum hujan, begitulah ungkapan yang tepat bagi masyarakat Desa Pelambaian. Inovasi dan terobosan, dengan 'sentuhan' PT Chevron Pacific Indonesia telahmemberi secercah pelangiharapan baru masyarakat. (adv)